Jakarta – Di era media sosial yang serba cepat, satu unggahan atau review dari influencer bisa mengubah nasib sebuah produk lokal dalam semalam. Fenomena “sekali viral, langsung laris” semakin nyata di Indonesia, di mana produk UMKM dari makanan, fashion, skincare, hingga minuman tradisional mendadak kebanjiran pesanan hanya gara-gara direkomendasikan oleh influencer atau content creator populer.
Tahun 2025–2026 menjadi saksi betapa kuatnya influencer marketing dalam mendongkrak brand lokal. Banyak UMKM yang sebelumnya kesulitan bersaing di pasar digital, kini meraup omzet jutaan hingga miliaran rupiah berkat kolaborasi dengan micro-influencer, mom influencer, hingga beauty guru di TikTok, Instagram, dan platform lainnya.
Salah satu contoh terkini adalah brand minuman lokal seperti Es Teh Indonesia dan varian Es Teh Susu Nusantara yang viral berkat dukungan influencer kuliner dan food vlogger. Racikan teh lokal yang dipadukan susu kental manis dengan sentuhan khas Indonesia berhasil menarik perhatian, terutama setelah muncul di review dan live selling. Brand ini sukses bersaing dengan pemain global berkat harga terjangkau dan narasi “local pride” yang dibangun influencer.
Di sektor fashion, brand lokal seperti Drift Colony, Hotel Official, Nawa Clo, dan beberapa streetwear lainnya sering disebut sebagai favorit influencer fashion top Indonesia. Review autentik dari content creator membuat stok habis dalam hitungan hari, bahkan mendorong ekspansi cabang dan kolaborasi baru.
Tak ketinggalan produk kuliner seperti wedang tahu legendaris yang naik daun lagi berkat vlog kuliner viral, atau minuman probiotik craft berbahan lokal (seperti kombucha jahe emprit atau bunga telang) yang dipromosikan sebagai gaya hidup sehat. Banyak UMKM juga mendapat “free endorsement” dari artis dan influencer seperti Tya Ariestya, Ayu Dewi, atau Nicky Tirta yang secara sukarela mereview produk untuk mendukung UMKM pasca-pandemi dan di masa ekonomi sulit.
Menurut tren influencer marketing 2025–2026, kekuatan utama terletak pada:
- Autentisitas dan komunitas — Micro-influencer dengan engagement tinggi lebih efektif daripada seleb besar, karena audiens merasa rekomendasi lebih genuine dan relatable.
- Social commerce & live selling — Platform seperti TikTok Shop memungkinkan penjualan langsung saat review berlangsung, membuat konversi cepat.
- Narasi lokal & berkelanjutan — Produk yang mengangkat bahan nusantara, UMKM daerah, atau nilai ESG (lingkungan, sosial, tata kelola) lebih mudah viral.
- Kolaborasi jangka panjang — Brand tak lagi sekadar bayar sekali endorse, tapi bangun partnership berkelanjutan dengan creator yang sesuai niche.
- Konten video pendek — Review singkat, unboxing, atau “before-after” di TikTok/Reels menjadi senjata ampuh untuk mencapai viralitas.
Para pelaku UMKM kini semakin sadar: tanpa kehadiran di media sosial dan dukungan influencer, sulit menembus pasar yang kompetitif. Banyak yang melaporkan peningkatan penjualan hingga 5–10 kali lipat setelah satu video viral. Di sisi lain, influencer juga mendapat manfaat dari komisi afiliasi atau kolaborasi eksklusif.
Pemerintah dan platform e-commerce terus mendorong tren ini melalui program edukasi social selling dan kampanye dukung produk lokal. Hasilnya? Lebih banyak brand UMKM yang naik kelas, dari gerobak kecil menjadi brand nasional, berkat kekuatan satu klik “share” atau “add to cart”.
